Notification

×

Tiongkok Pantau Mutasi Virus Korona Guna Menyesuaikan Respons Covid-19

Rabu, 04 Januari 2023 | 18.26 WIB Last Updated 2023-01-05T02:26:46Z
Presiden Tiongkok, Xi Jinping

PONTIANAKNEWS.COM (BEIJING) - Selama lebih dari satu abad, Tiongkok bekerja keras mengupayakan modernisasi dari "Revitalisasi Tiongkok" hingga target "empat modernisasi" setelah Republik Rakyat Tiongkok berdiri pada 1949, yakni Pertanian, Industri, Pertahanan, dan Sains.

 

Kini, modernisasi bukan lagi sekadar impian rakyat Tiongkok. Pada 2022, pemimpin Tiongkok melansir cetak biru tentang pembangunan Tiongkok sebagai negara sosialis modern dalam seluruh aspek lewat jalur pembangunan Tiongkok yang unik.

 

Hal tersebut disampaikan Presiden Tiongkok, Xi Jinping dalam sambutan Tahun Baru pada hari Sabtu (31 Desember 2022) lalu.

 

"Cetak biru ambisius telah disusun untuk membangun sebuah negara sosialis modern dalam seluruh aspek, serta memajukan revitalisasi bangsa Tiongkok dalam seluruh bidang lewat jalur modernisasi khas Tiongkok. Hal ini menjadi isyarat lantang bagi kita agar melangkah maju menuju perjalanan baru," ujar Xi Jinping.

 

Modernisasi Tiongkok memiliki sejumlah unsur yang bersifat universal dalam seluruh proses modernisasi, namun memiliki ciri khas yang sesuai dengan konteks Tiongkok.

 

Presiden Xi telah menggarisbawahi ciri khas modernisasi Tiongkok: modernisasi populasi yang masif, kesejahteraan umum bagi setiap warga, kemajuan dari sisi material dan budaya-etika, keselarasan antara manusia dan alam, serta pembangunan yang damai.

 

Tiongkok berupaya mencapai modernisasi bagi lebih dari 1,4 miliar rakyatnya, jumlah yang lebih besar ketimbang penduduk seluruh negara maju saat ini jika digabungkan.

 

Setelah ekonomi nasional mengalami pertumbuhan stabil, Tiongkok mengutamakan kesejahteraan umum agar semua orang memperoleh buah kesuksesan ekonomi yang sama, serta mengurangi kesenjangan. Menurut Blue Book of Common Prosperity, indeks kesejahteraan umum Tiongkok meningkat sebesar 79,3 persen dari 24,67 persen pada 2013 menjadi 44,23 persen pada 2020.

 

Sambil terus memperkuat landasan material untuk modernisasi, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat dari sisi material, Tiongkok berupaya mengembangkan budaya sosialis yang maju, membina prinsip dan pendirian teguh, serta melestarikan warisan budaya Tiongkok. Tiongkok kini memiliki 43 cagar budaya dalam Daftar Cagar Budaya Tidak Benda UNESCO, atau jumlah terbanyak di dunia.

 

Dipandu oleh filosofi pembangunan baru yang melibatkan pembangunan inovatif, terarah, hijau, terbuka, dan kolaboratif, Tiongkok terus menjadi motor penggerak  utama ekonomi dunia pada 2022. Dana Moneter Internasional memperkirakan, ekonomi Tiongkok akan bertumbuh sebesar 3,2 persen pada 2022, sejalan dengan proyeksi angka pertumbuhan global.

 

Seperti yang berulang kali dijanjikan pemimpin Tiongkok, negara ini tetap berkomitmen terhadap pembangunan yang damai. Global Security Initiative merupakan salah satu contohnya. GSI telah diakui dan didukung lebih dari 70 negara.

 

Jalur pencapaian target ini telah terbentuk. Dengan filosofi pembangunan yang memprioritaskan rakyat, Tiongkok telah membangun sistem pendidikan, jaring pengaman sosial, dan kesehatan yang terbesar di dunia.

 

Xi pun menilai inovasi sebagai unsur utama di balik modernisasi Tiongkok. Langkah Tiongkok mewujudkan kemandirian dalam inovasi sains tecermin dari beragam pencapaian negara ini, termasuk Sistem Satelit Navigasi Beidou, penjelajahan antariksa termasuk pesawat penjelajah bulan dan Mars, serta pembangunan stasiun luar angkasa Tiongkok, serta kapal laut dalam dengan awak manusia Fendouzhe.

 

Tiongkok juga mengembangkan teknologi kereta kecepatan tinggi, teknologi komunikasi 5G, dan kecerdasan buatan.

 

Dalam Global Innovation Index 2022 versi World Intellectual Property Organization, badan khusus PBB, peringkat Tiongkok naik menjadi posisi ke-11 di antara 132 perekonomian yang disurvei.

 

Dipandu visi Xi, "perairan jernih dan pegunungan rimbun sebagai aset berharga", modernisasi Tiongkok turut mengutamakan keselarasan antara manusia dan alam. Tiongkok juga berhasil memangkas intensitas emisi karbon sebesar 34,4 persen dalam 10 tahun terakhir, serta bertekad mencapai puncak emisi CO2 sebelum 2030, serta mewujudkan netralitas karbon sebelum 2060.

 

Lebih lagi, Tiongkok kembali menegaskan sikapnya untuk mengupayakan agenda kebijakan pintu terbuka yang semakin luas di berbagai wilayah dengan cakupan yang lebih menyeluruh, serta mengikuti jalur modernisasi ala Tiongkok, serta membagikan peluang pembangunan nasionalnya kepada dunia. Sepanjang 11 bulan pertama pada 2022, nilai perdagangan barang Tiongkok meningkat 8,6 persen secara tahunan menjadi RMB 38,34 triliun ($5,5 triliun), menurut Kepabeanan Tiongkok. (tim liputan).

 

Editor : Putri

×
Berita Terbaru Update