Notification

×

Parpol Bukan Fabrikasi Kebusukan Politik

Minggu, 15 Januari 2023 | 16.27 WIB Last Updated 2023-01-16T00:27:09Z

Pemerhati Sejarah Sosial Politik Kalbar, Syafaruddin DaEng Usman

PONTIANAKNEWS.COM (PONTIANAK) - Partai Politik (Parpol) sebagai wadah persemaian para aktor politik harus memainkan peran penting untuk mewujudkan peradaban politik yang luhur.


Ulasan itu diungkap pemerhati Sejarah Sosial Politik Kalimantan Barat, Syafaruddin DaEng Usman kepada redaksi www,pontianaknews.com belum lama ini.


“Jangan sampai, partai politik justru menjadi ruang fabrikasi kebusukan-kebusukan dalam politik. Itu sama sekali tidak boleh terjadi,” ungkap Syafaruddin DaEng Usman.


Ia mengatakan sebagian orang menyebut politik itu busuk, ruang yang berlumur kebengisan. tak heran, ada sebagian orang yang anti terhadap politik. Mereka alergi, bahkan sekadar untuk membincangkannya.


“Sejatinya tidaklah demikian. Politik adalah arena perjuangan yang mulia. Di sana, orang bisa memperjuangkan keyakinan dan ideologi untuk meraih kesejahteraan bersama,” paparnya.


Dikatakannya, nyaris perjuangan di semua ranah tak bisa ditegakkan tanpa perjuangan politik.


“Politik, sesungguhnya, adalah medan perjuangan mulia. Di situlah, hampir seluruh hajat hidup orang banyak ditentukan”, ujarnya lagi.


Syafaruddin DaEng Usman yang juga Tim Pemeriksa Daerah (TPD) Kalbar Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI menegaskan, jika ada kebusukan dalam politik itu sebenarnya bukan kebusukan politik itu sendiri.


“Tapi para oknum politik yang berperilaku busuk, dengan menunggangi keagungan politik”, imbuhnya.


“Mereka bersikap pragmatis oportunis, yang bergerak dengan kendali keuntungan pribadi, dan abai terhadap kepentingan dan kemaslahatan banyak orang”, lanjutnya.


Ditegaskannya, orang-orang seperti itulah yang mencoretkan noda dalam politik.


“Mempraktekkan politik muka ganda, tanpa dasar ideologi yang kuat. Ke mana angin keberuntungan mengarah, ke sana mereka berkerubung”, sitirnya.


Inilah yang menurut Syafaruddin menjadi sebab runtuhnya peradaban politik.


“Berpolitik tanpa fatsun”, tegas dia. (tim liputan*).


Editor : Putri

×
Berita Terbaru Update