Notification

×

Kejaksaan Negeri Selamatkan Keuangan Negara Yang Di Korupsi Senilai Rp 7,5 Miliar

Selasa, 13 Desember 2022 | 00.37 WIB Last Updated 2022-12-13T08:37:35Z
Kejaksaan Negeri Selamatkan Keuangan Negara Yang Di Korupsi Senilai Rp 7,5 Miliar

PONTIANAKNEWS.COM(TANJUNGPINANG) - Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyelamatkan keuangan negara senilai Rp7,5 miliar yang dikembalikan oleh seorang terpidana Kasus Korupsi Ferdy Yohanes yang diserahkan pada hari Minggu (11 Desember 2022).

 

Hal ini mendapat apresiasi oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang, Joko Yuhono, Ia menyebut uang pengganti tersebut berkaitan dengan kasus tindak pidana korupsi penyediaan lahan izin usaha pertambangan operasi produksi (Iup-Op) Bauksit di Kabupaten Bintan periode tahun 2018-2019.

 

"Ini sebuah prestasi yang patut diapresiasi," kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang, Joko Yuhono.

 

Tim Jaksa Eksekutor Kejari Tanjungpinang yang mengeksekusi uang pengganti senilai Rp7,5 miliar itu, berdasarkan Surat Perintah Kepala Kejari Tanjungpinang nomor print: -1328/l.10.10/fuh.1/12/2022, tertanggal 6 Desember 2022.

 

"Ini juga sesuai Putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang nomor: 15 pid-sus-tpk/2022/pn tpg pada tanggal tanggal 8 November 2022 atas nama terpidana Ferdy Yohanes,” ujarnya.

 

Joko menyampaikan uang pengganti korupsi tersebut akan disetor ke kas negara melalui Bank Mandiri Cabang Tanjungpinang.

 

Ia juga menegaskan bahwa Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang sangat serius dalam memberantas korupsi sekaligus memulihkan kerugian keuangan negara.

 

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang, Joko Yuhono mengatakan terpidana Korupsi Ferdy Yohanes divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Tanjungpinang tanggal 8 November 2022.

 

Ferdy dihukum empat tahun penjara dan denda Rp 300 juta, dan jika uang denda tak dibayar, maka akan dikenakan hukuman pengganti 3 bulan penjara.

 

Terpidana Ferdi Yohanes terbukti melakukan perbuatan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan belasan terpidana lain, dalam penyalahgunaan iup-op tambang bauksit di Kabupaten Bintan pada tahun 2018-2019.

 

Perbuatan terpidana yang menawarkan dan meminta uang sewa dari hutan lindung untuk ditambang, telah mengakibatkan aset yang menjadi milik negara terlepas dari kepemilikan negara secara melawan hukum dengan diterbitkannya atau keluarnya Iup-Op untuk penjualan kepada badan usaha yang tidak sesuai dengan mekanisme yang benar.

 

Akibat perbuatannya, negara mengalami kerugian keuangan sebesar Rp 7,5 miliar atas penerimaan sewa dari lahan hutan lindung kepada sejumlah perusahaan tambang yang sebelumnya telah dihukum pidana. (tim liputan).


Editor : Putri

×
Berita Terbaru Update