Notification

×

Tim Pendamping Keluarga Adalah Pahlawan Bagi Keluarga Di Indonesia

Jumat, 11 November 2022 | 13.56 WIB Last Updated 2022-11-11T21:56:58Z
Tim Pendamping Keluarga Adalah Pahlawan Bagi Keluarga Di Indonesia

PONTIANAKNEWS.COM (PONTIANAK) - Inspektur Wilayah I BKKBN Maria Vianney Chinggih Widanarto mengatakan momentum hari pahlawan bisa menjadikan para Tim Pendamping Keluarga sebagai pahlawan bagi keluarga di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat.


Demikian dikatakan saat membuka workshop monitoring dan evaluasi pelaksanaan orientasi Tim Pendamping Keluarga Tingkat Provinsi Kalbar pada hari  Kamis (10 November 2022).

 

"Hari Pahlawan ini sangat strategis. Saya harap bapak ibu para TPK yang digerakkan oleh PKB dan PLKB bisa menjadi pahlawan bagi keluarga di Indonesia," ujar Maria.

 

Dari sampaian Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo di Hari Pahlawan, mengatakan untuk menjadi pahlawan harus memilki sifat visioner.

 

Dalam kegiatan ini, sangat tepat untuk melakukan monitoring evaluasi sebagai TPK yang terdiri dari PKK, Bidan dan Kader KB. Dengan menjadi visioner, harapan presiden untuk mencetak generasi emas di 2024 bisa dicapai.

 

Menjadi visioner, tentunya miliki pemahaman apa yang menjadi tugas teman-teman ketika di lapangan. Jika semua tugas dipahami dengan baik, ia meyakini semua program dapat berhasil.

 

Pelaksana Tugas BKKBN Kalimantan Barat Muslimat mengatakan kegiatan workshop monitoring dan evaluasi pelaksanaan orientasi Tim Pendamping Keluarga Tingkat Provinsi Kalbar dilakukan guna memperkuat penurunan angka stunting di Kalbar.

 

Sesuai arahan presiden, penurunan prevalensi stunting di 2024 waktunya tinggal 2 tahun lagi. Di Kalbar angka stunting dari data SSGI ada di angka 29,8 persen. Jika semua berkolaborasi, Muslimat optimis angka stunting di Kalbar bisa turun dari target yang ingin dicapai pusat sebesar 14 persen.

 

Ia berharap Tim Pendamping Keluarga mampu menyampaikan informasi tentang stunting kepada masyarakat.

 

Sejauh ini kata dia, upaya dalam menurunkan stunting sudah dilakukan. Mulai dari intervensi pada calon pengantin, ibu hamil dan pasca melahirkan, menjadi penting karena ini menjadi usia emas 1000 hari pertama kehidupan.

 

Kemudian pihaknya sudah melakukan pendekatan pada keluarga beresiko stunting dengan memberikan bantuan sosial cegah stunting.

 

"Kami juga melakukan upaya penurunan stunting mulai dari hulu, yaitu fase remaja. Caranya melalui edukasi reproduksi. Para remaja juga diminta untuk tidak buru-buru menikah, karena beresiko stunting saat hamil muda," ujarnya.

 

Kemudian remaja perempuan juga disuport dalam pemberian suplemen tambahan darah guna mencegah anemia.  (tim liputan**).

 

Editor : Putri

×
Berita Terbaru Update