Notification

×

LP3M Untan Gelar Workshop Penyusunan RPS Berbasis Proyek Untuk Dosen MKWK

Kamis, 06 Oktober 2022 | 04.20 WIB Last Updated 2022-10-06T11:20:16Z

LP3M Untan Gelar Workshop Penyusunan RPS Berbasis Proyek Untuk Dosen MKWK


PONTIANAKNEWS.COM (PONTIANAK) - Dalam rangka meningkatkan kemampuan para Dosen dalam menyusun RPS yang berbasis kasus dan proyek bersama sebagai bekal bagi para dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Universitas Tanjungpura melaksanakan Workshop Penyusunan RPS Berbasis Proyek untuk Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum untuk dapat menjalankan Kelas secara kolaboratif dan partisipatif yang dilaksanakan di Hotel Orchad Perdana Jalan Perdana No.8 Pontianak.

 

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat MKWK Universitas Tanjungpura Pontianak sekaligus Ketua Pelaksana Kegiaatan Workshop, Dr. Ir. Wasi’an, M.Sc. dalam sambutanya ia mengatakan tujuan kegiatan ini adalah melakukan kesiapan dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) untuk menyusun RPS yang berbasis kasus dan proyek bersama.

 

“Rencana pelaksanaan Workshop ini akan dilakukan selama 2 hari: Rabu-Kamis 5-6 Oktober 2022, dengan Materi dari Pusat Pengembangan Pembelajaran Meliputi paradigma pembelajaran kasus dan proyek, pengembangan RPS dan Bahan Ajar Berbasis Case Method Learning (CBL) dan Project Base Learning (PjBL) dan Materi pada setiap Mata Kuliah Wajib Kurikulum Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia,” terang Dr. Ir. Wasi’an, M.Sc.

 

Kepala Pusat MKWK Universitas Tanjungpura Pontianak, Dr. Ir. Wasi’an, M.Sc. menjelaskan bahwa seluruh dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum diwajibkan untuk ikut kegiatan ini.

 

“Diantaranya Dosen Pendidikan Agama, Dosen Pendidikan Pancasila, Dosen Pendidikan Kewarganegaraan, Dosen Bahasa Indonesia,” imbuhnya.

 

Dr. Ir. Wasi’an menjelaskan peserta diikuti oleh Dosen Pendidikan Agama sebanyak 12 orang, Dosen Pendidikan Pancasila Sebanyak 11, Dosen Pendidikan Kewarganegaraan sebanyak 11 orang, Dosen Bahasa Indonesia sebanyak 16 orang ditambah peserta dari dosen kampus mitra Universitas Tanjungpura antara lain Dosen Universitas OSO sebanyak  1 orang, Dosen UPB sebanyak 1 orang, Dosen UMP Sebanyak 1 orang, Dosen Polnep Tonggak Equator sebanyak 1 orang, Dosen IKIP sebanyak 1 orang, dan Dosen UNU sebanyak 1 orang.

 

Sementara itu Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran Dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Tanjungpura Pontianak, Dr. Sulistyarini, M. Si. dalam sambutannya mengatakan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat cepat saat ini telah membawa perubahan yang sangat cepat pula, dalam berbagai aspek kehidupan.

 

Dr. Sulistyarini menyebut Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya juga terjadi dengan sangat cepat. Sehingga dalam masa yang sangat dinamis ini Perguruan Tinggi harus merespon dengan cepat dan tepat.

 

Diperlukan transformasi pembelajaran untuk bisa membekali dan menyiapkan lulusan perguruan tinggi agar menjadi generasi unggul dan tanggap serta siap menghadapi tantangan jaman tanpa tercerabut dari akar budaya, kepribadian dan identitas bangsa.

 

“Saat ini kreativitas dan inovasi menjadi kata kunci penting untuk memastikan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Para mahasiswa yang saat ini belajar di Perguruan Tinggi, harus disiapkan menjadi pembelajar sejati yang terampil, lentur dan ulet (agile learner),” ungkapnya.

 

Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan merupakan kerangka untuk menyiapkan mahasiswa menjadi sarjana yang tangguh, relevan dengan kebutuhan zaman, dan siap menjadi pemimpin dengan karakter dan jati diri yang dilandasi semangat bela negara yang tinggi.

 

“Proses pembelajaran dalam kampus merdeka merupakan salah satu perwujudan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa atau student center learning yang sangat esensial,” imbuhnya.

 

Dr. Sulistyarini berharap melalui program Merdeka Belajar–Kampus Merdeka yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik diharapkan hard skill dan soft skill mahasiswa akan terbentuk dengan kuat dan melahirkan mahasiswa yang juga berkarakter tangguh.

 

“Upaya pembentukan karakter ini dilakukan dengan tujuan agar pada saat yang bersamaan keterampilan teknikal dapat parallel dengan pembentukan prilaku yang didasarkan pada kepribadian dan kearifan original Bangsa Indonesia,” ungkap Dr. Sulistyarini.

 

Selanjutnya ketua LP3M Universitas Tanjungpura ini mengatakan kebijakan Kementrian berikutnya adalah penerapan Indikator Kinerja Utama sebagai landasan transformasi Perguruan tinggi.

 

“Workshop hari ini sebagaimana tadi dilaporkan Kepala Pusat Mata Kuliah Wajib Kurikulum akan mendorong capaian IKU ke 7 yakni : Kelas yang kolaboratif dan partisipatif, Kinerja utama ketujuh adalah kelas yang kolaboratif dan partisipatif, sehingga pihak kampus bersama para dosen mampu menciptakan kelas yang mumpuni, Bisa melibatkan mahasiswa dan merangsang keterlibatan mereka dalam proses belajar di kelas,” jelasnya.

 

Melalui perhitungan dengan IKU inilah maka pemerintah dan pihak PTN sendiri bisa lebih mudah melihat perkembangan dari instansi pendidikan. Sehingga lebih mudah untuk mengejar target sekaligus lebih mudah untuk mendapatkan dana insentif yang disediakan oleh Kemendikbud.

 

Lembaga Pengembangan Pembelajaran Dan Penjaminan Mutu Universitas Tanjungpura Pontianak untuk memastikan bahwa penguatan nilai-nilai ini berjalan efektif UNTAN juga telah melakukan berbagai upaya diantaranya dengan mendorong inovasi pembelajaran yang saat ini didorong ke arah pembelajaran yang berbasis kasus dan proyek bersama.

 

“Tidak kalah penting dalam hal ini adalah pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembelajaran. Sehingga apa yang menjadi cita-cita kita menjadi Negara yang adil makmur serta berdaulat penuh dapat terjaga sampai ke masa depan,” pungkasnya. (tim liputan).

 

Editor : Putri

×
Berita Terbaru Update