Notification

×

Mantan Teroris Jadi Pembicara Di FGD Moderasi Beragama Di Rumah Adat Melayu Pontianak

Kamis, 14 Juli 2022 | 16.49 WIB Last Updated 2022-07-14T23:49:13Z
 FGD Moderasi Beragama Di Rumah Adat Melayu Pontianak

PONTIANAKNEWS.COM (PONTIANAK) - Kementerian Agama Kota Pontianak menghadirkan mantan teroris sebagai pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) Moderasi Beragama yang dilaksanakan di Rumah Adat Melayu jalan Sutan Syahrir Kota Baru Pontianak pada hari Kamis (14 Juli 2022).


Mantan Teroris tersebut adalah Ken Setiawan, mantan Komandan NII Wilayah 9 dan pendiri NII Crisis Centre (Pusat Rehabilitasi Korban NII dan Radikalisme) dan Rosnazizi,  mantan Narapidana Teroris (Napiter) asal Singkawang yang pernah  terpapar radikalisme. 


Kepada awak media, Ken menyatakan, radikalisme sebenarnye virus yang bisa menimpa siapa saja. Perlu pemahaman pancasila dengan baik dan pengamalan yang benar agar tidak terpapar seperti dirinya dulu.


Ken mengaku,  bisa  terpapar  virus radikal karena  menganggap pancasila itu sebagai pujaan berhala. Padahal konsep pancasila sudah finish secara utuh sebagai falsafah negara  Indonesia. 


“Saya dulu belajar dengan guru yang salah. Sehingga memahamai tafsir-tafsir dengan cara yang salah. Saya juga menganggap pancasila  itu pujaan berhala. Padahal sejatinya, tidak ada pertentangan dalam Pancasila mengenai ajaran-ajaran agama,” kata Ken. 


Menurutnya dari anggapan keliru terhadap pancasila, memudahkan  seseorang untuk berpindah haluan dari nilai-nilai agama sebenarnya. Ditambah lagi permasalahan munculnya sikap intoleran di tengah masyarakat, memicu paham radikal ini tumbuh.



Ada kelompok  yang mengaku pancasilais, tapi tidak memahami makna sebenarnya dari pancasila itu sendiri. Merasa  kelompoknya benar, sementara kelompok lain salah.


Ken  menyatakan untuk menghindari  virus radikal ini, masyarakat perlu memahami dan mengamalkan pancasila secara berurutan, tidak melompat. Dimulai dengan mengamalkan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, ini akan menciptakan pribadi yang damai.  Di satu sisi, memang agama di Indonesia  beragam, namun intinya Tuhan itu tetap satu, hanya penamaan untuk Tuhan itu saja berbeda.


Ketika sudah meresapi dan mengaplikasikan sila pertama dengan baik, sila ke dua akan mudah diimplementasikan melalui prinsip memanusiakan manusia (sila kedua) walau berbeda agama dan etnis. 


“Setelah kita beradab, maka kita bersatu (sila ketiga), kemudian bermusyawarah mufakat,  in syaa Allah barulah berkeadilan sosial (sila kelima). Ini  yang harus kita bangun, boleh  berbeda tapi jangan menyalahkan sehingga kita bisa berdamai semuanya antar ummat beragama,” tegas Ken.   


Masih menurut Ken, dia berharap, ummat beragama harus sering bertemu dalam kegiatan  positif untuk memupuk persatuan dan meminimalisir masuknya radikalisme. Ken juga yakin, dengan kerapnya  kegiatan perkumpulan ini  akan tercipta moderasi beragama yang indah. Karena selama ini dia melihat, perkumpulan lintas agama ini masih kurang, jadi perlu ditingkatkan.  


Mantan napiter Rosnazizi dalam kesempatan itu bercerita dan mengisahkan pengalamannya hingga bisa terpapar paham radikalisme.  Ketika itu dia hanya belajar satu guru yang melahirkan opini dan aksi menyesatkan. Padahal untuk mendapatkan ilmu yang benar harus banyak guru yang diikuti.


“Kita harus beajar dari sumber yang benar. Jangan hanya satu pintu. Dulu saya juga menganggap pancasila itu bertentangan dengan quran dan sunnah. Tapi hari ini saya mengatakan pancasila sudah sesuai dengan  quran dan sunnah,” katanya.    


Namun , Rosnazizi  tetap berpesan  agar ummat beragama  tidak mudah menilai secara negative ummat beragama lainnya dari sisi penampilan.  Belum tentu penampilan berciri kaum radikal itu, faktanya radikal, bisa sebaliknya.  Yang harus diperhatikan, akhlak kita dalam kehidupan bermasyarakat.   

Kakanwi Kemenag Kalbar Drs. Syahrul Yadi, M.SI menyatakan, hadirnya dua narasumber  (Ken Setiawan dan Rosnazizi) ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pemahaman kepada masyarakat khususnya peserta FGD tentang paham radikal dan moderasi beragama yang menjadi prioritas program nasional.


Menurut Syahrul, potensi persatuan dan perpecahan di Indonesia, Kalbar khususnya sangat kental, maka harus kembali pada kebhinekaan tunggal ika.    

   

“Orang beragama rentan dan sangat mudah tersinggung jika bicara soal agama. Kencang bahkan tidak dipikirkan dari sisi budaya, bahkan nyawa  pun siap untuk dikorbankan. Ada kekuatan kiri dan kanan, maka kita harus menguatkan kekuatan tengah, yaitu bermoderasi agama,” jelas Syahrul Yadi.   

  

FGD itu sendiri  mengusung tema “Moderasi Beragama dan Pluralisme: Sebuah Alternatif dan Solusi Problem Kebangsaan”. Hadir sebagai peserta dalam kegiatan itu sebanyak 300 orang.


Terdiri dari pengelola  pondok pesantren,   pengurus masjid, penyuluh lintas agama  se kota Pontianak, dan Paguyuban Merah Putih Kota Pontianak. Selain mantan aktivis radikalisme, mantan teroris, Drs. H. Syharul Yadi  M.Si  juga turut menjadi pembicara.  


FGD ini sebagai sarana penyampaian konsep penguatan internalisasi nilai-nilai moderasi beragama sebagai upaya pencegahan radikalisme guna mendukung semangat toleransi dan kerukunan beragama di kota Pontianak.


Berdasarkan release panitia kegiatan, FGD  ini bertujuan menumbuhkembangkan penguatan internalisasi nilai-nilai moderasi beragama di kalangan pengelola pesantren, pengurus masjid  serta penyuluh lintas agama. Tentunya  dalam bingkai toleransi dan kerukunan sebagai upaya pencegahan radikalisme di kota Pontianak-Kalbar, sekaligus menguatkan kerjasama dalam menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif melalui penguatan moderasi beragama di kota Pontianak.


Selain itu agar masing-masing pihak, pengelola pesantren, pengurus masjid dan penyuluh lintas agama menyadari ancaman pemikiran atau pemahaman keagamaan eksklusif dan ekstrem yang telah menyusup ke seluruh lini instansi dan lembaga. Sehingga pihak pesantren dan pengurus-pengurus masjid dapat mengambil langkah-langkah kongkrit untuk mengantisipasinya.


Pihak pengelola pesantren dan pengurus masjid kota Pontianak beserta penyuluh lintas agama juga diharapkan  dapat menggalakkan dan mengimplementasikan nilai-nilai  moderasi beragama di lingkungannya, melalui FGD ini. Tujuannya sebagai upaya pencegahan paham radikalisme yang telah merangsek masuk ke pesantren dan masjid-masjid kota Pontianak. (tim liputan).


Editor : Putri

×
Berita Terbaru Update