Notification

×

Iklan


 

Ajak Kyai NU Serius Kenalkan Budaya Pesantren Di Kalbar, KH Joko Supeno Mukti Sampaikan Hal Ini

Kamis, 30 Juni 2022 | 11.01 WIB Last Updated 2022-06-30T18:01:54Z
 KH. Joko Supeno Mukti Al-Hafidzh

PONTIANAKNEWS.COM (MELAWI) – Pondok Pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama semata melainkan juga sebagai lembaga pendidikan, keilmuan, pelatihan dan pengembangan masyarakat. Tak heran pesantren merupakan model lembaga pendidikan tertua di dunia sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW seperti model pendidikan halaqah.


Hal ini disampaikan KH. Joko Supeno Mukti Al-Hafidzh selaku Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Qur’an Kabupetan Melawi,  dalam pembukaan acara Webinar Pra Konferwil PWNU Kalbar VIII series #3 dengan tema Pesantren Sebagai Benteng Islam Aswaja an-Nahdliyah di Kalimantan Barat yangdigelar Lembaga Ta’lif Wan Nasyr PWNU Kalbar, Kamis, 30/6 pagi melalui plartform Zoom Meeting.


Pesantren di Indonesia akhir-akhir ini juga tampil dalam berbagai ragamnya. Ia mengatakan pesantren memiliki sanad guru yang jelas bersambung kepada Rasulullah SAW.


Alumni Ponpes al-Munawir krapyak ini menuturkan bahwa perbedaan kultur antara Kalimantan dan Jawa menjadi kesulitan dan keseriusan tersendiri dalam mengenalkan budaya pesantren karena masih banyak masyarakat yang belum mengenal budaya pesantren.


Beliau mengajak para pengasuh pondok pesantren untuk mengerami (menjaga) para santri secara terus-menerus agar mampu mendidik para santri menjadi santri yang berhasil.


“Ada banyak tantangan yang dihadapi untuk mengembangkan pesantren di Pulau Kalimantan ini. Selain kultur masyarakat, juga ada orangtua yang betah namun anaknya yang kurang betah mondok, begitu juga sebaliknya. Kemudian dua-duanya betah tetapi suasana pesantren belum bisa membuat mereka betah mondok. Namun semua itu pelan-pelan dapat diatasi dan alhamdulillah pesantren Bustanul Qur'an pelan-pelan bisa berkembang dan sudah melahirkan banyak alumni yang hafidz atau hafidzah qur'an dan juga pandai kitab kuning serta ilmu-ilmu agama Islam yang lainnya,” ungkap KH. Joko Supeno Mukti Al-Hafidzh.


Dirinya juga mengajak perlunya memperkuat ideologi ASWAJA an-Nahdliyah di tengah maraknya paham-paham diluar ASWAJA. Tentunya ini perlu dukungan terutama dari NU baik ditingkat wilayah maupun cabang.(tim liputan).


Editor : Putri

×
Berita Terbaru Update