Notification

×

Iklan

Kisah Awalnya Kue Keranjang, Catatan Budaya Syafaruddin Dg Usman

Selasa, 25 Januari 2022 | 17.10 WIB Last Updated 2022-01-26T01:10:56Z
Kisah Awalnya Kue Keranjang, Catatan Budaya Syafaruddin Dg Usman

PONTIANAKNEWS.COM (PONTIANAK) - Kue keranjang dengan berbagai nama lainnya, kue bakul atau dodol cina, kue keranjang yang dikenal sekarang hanya ada di Indonesia, dengan sedikit penyebaran di Singapura dan Malaysia.

 

Kue lengket manis ini terbuat dari ketan dan gula, di negeri asalnya bernama Nian Gao (Nien Kau) atau nama lain dalam dialek Hokkian disebut Thi Kue, kue manis.

 

Disebut kue keranjang karena dulunya menggunakan keranjang-keranjang kecil terbuat dari anyaman rotan untuk mencetak kue ini. Sebagian lidah menyebutnya kue ranjang kependekan dari keranjang.

 

Dalam penyebarannya kemudian menjadi penganan khas banyak daerah yang punya kelhasan masing-masing. Disebut juga dengan dodol dan jenang.

 

Kue keranjang hanya marak menjelang dan saat Tahun Baru Imlek dan akan hilang dari pasaran setelah kemeriahan lebaran Tionghoa berlalu.

 

Di dalam sekeping kue keranjang ternyata mengandung makna yang sangat mendalam, terutama makna kebersamaan, sama persis seperti pemaknaan Dodol Betawi.

 

Kue keranjang merupakan produk ikatan sosial yang kuat di tengah masyarakat, Tionghoa khususnya, karena pembuatannya sedikit rumit dan sulit.

 

Adonan dimasak dalam kuali besar di atas tungku kayu dengan api yang tidak terlau besar atau tidak terlau kecil. Harus dengan kayu bakar untuk mendapatkan panas api yang pas dan rasa legit dodol.


Adonan kue keranjang harus diaduk selama beberapa jam nonstop tidak boleh berhenti karena jika berhenti tekstur yang diharapkan tidak tercapai, bahkan kue keranjang atau dodol cina, akan sangat mengeras dan rasa tidak merata.

 

Saat ini, serupa juga dodol lainnya, kue keranjang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Pontianak, Singkawang, sekitarnya di Kalimantan Barat.

 

Dari negeri asalnya kue keranjang yang bernama Nian Gao yang tawar, kemudian berkembang di Negeri Selatan menjadi rasa manis dengan keunikan bentuknya. (tim liputan).


Editor : Putri

×
Berita Terbaru Update